UPACARA DAUR HIDUP FASE PERTUMBUHAN ADAT JAWA


23/06/2020 Administrator


Sebagai perwujudan rasa syukur sekaligus upaya menjaga keseimbangan dan keserasian antara manusia dengan lingkungannya, masyarakat Jawa mengadakan upacara selamatan dalam setiap tahapan kehidupan. Termasuk masa pertumbuhan sejak kanak-kanak hingga beranjak remaja, di mana masyarakat Jawa percaya pada masa ini banyak transisi atau perubahan yang memicu ketidak-serasian di alam semesta sehingga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Upacara-upacara yang perlu dilakukan yaitu tedhak siten, gaulan, nyetahuni, nyapih, supitan/tetesan, dan taraban.
 
Tedhak Siten
Tedhak berasal dari kata idhak yang berarti menginjak dan siten berasal dari kata siti yang berarti tanah. Rangkaian prosesi adat tradisional Jawa yang diselenggarakaan saat seorang anak belajar menginjakkan kaki ke tanah untuk pertama kalinya, yaitu ketika anak berusia pitung lapan atau tujuh kali 35 hari (245 hari). Upacara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada bumi tempat anak belajar berjalan dan bentuk rasa syukur atas tumbuh kembang anak.
Upacara dimulai dengan pembacaan doa, kemudian anak ditetah atau dituntun berjalan menginjak tujuh tampah berisi tanah dan jadah tujuh warna  (putih, kuning, merah, cokelat, biru, hijau, ungu), minggah andha tebu atau menaiki tangga yang terbuat dari batang tebu, lalu dimasukkan ke dalam pranji atau kurungan ayam berukuran besar yang sudah diisi dengan berbagai barang dan mainan simbol pengharapan dan profesi. Setelah anak memilih salah satu benda di dalam pranji, acara dilanjutkan dengan prosesi siraman, yaitu memandikan anak dengan air kembang oleh anggota keluarga yang dituakan dan dipakaikan busana adat Jawa lengkap. Berikutnya adalah prosesi congkokan, di mana anak kembali ditetah membawa tongkat congkok dari batang tebu yang bagian atasnya diikatkan dengan ayam panggang. Upacara diakhiri dengan menyebar udhik-udhik (campuran bunga, uang logam, beras kuning, dan biji-bijian) dan kenduri atau jamuan makan bersama keluarga dan tamu undangan.
 
Gaulan dan Nyetahuni
Gaulan merupakan upacara adat yang dilakukan saat anak tumbuh gigi pertama kali, namun biasanya dilakukan bersamaan dengan nyetahuni atau upacara peringatan satu tahun usia anak karena secara umum gigi anak-anak mulai tumbuh pada usia empat bulan sampai satu tahun. Upacara dilakukan dengan kenduri atau bancakan yaitu menghantar makanan kepada para tetangga, yang menyajikan ubarampe nasi tumpeng, dua ambeng nasi takir dan jenang gaul.
Jenang gaul merupakan kukusan tepung beras dan sedikit tepung ketan yang dipotong kecil-kecil lalu direbus bersama kuah santan kental. Masyarakat Jawa sering menyebut gigi yang belum kuat mengunyah dengan istilah goal-gaul. Tekstur jenang yang kenyal merangsang pertumbuhan gigi dan mengurangi rasa nyeri saat giginya tumbuh serta menstimulasi anak untuk belajar mengunyah.
 
Nyapih
Berasal dari kata sapih yang berarti pisah atau memisahkan, yaitu upacara yang dilakukan saat ibu mulai menghentikan anak minum Air Susu Ibu pada usia dua tahun dan mengajarkan kemandirian agar anak tidak ketergantungan dengan orang tuanya. Upacara dilakukan dengan kenduri dan doa bersama yang diikuti bapak-bapak atau pemuda yang tinggal di sekitar rumah.
Lima hari setelah disapih, anak dibuatkan bubur yang nantinya akan dijual kepada anak-anak di sekitar rumah. Alat tukar yang digunakan untuk membeli bubur adalah pecahan genting atau kreweng. Dalam Bahasa Jawa terdapat istilah gembeng kreweng yang berarti cengeng sekali. Seluruh kreweng hasil berjualan bubur dikumpulkan lalu dilarung ke sungai terdekat dengan harapan agar anak tidak cengeng, dimana maksud dari upacara tersebut untuk mengalihkan perhatian anak agar tidak rewel dengan bersosialisasi dan bermain bersama anak-anak lainnya.
 
Supitan
Supitan atau tetakan merupakan sunat untuk anak laki-laki yang dilakukan pada usia delapan sampai dua belas tahun. Dalam agama Islam, sunat diwajibkan bagi setiap laki-laki untuk menghilangkan kotoran atau najis yang menempel pada kulit alat kelamin laki-laki, sedangkan menurut masyarakat Jawa sunat merupakan pertanda masuknya anak laki-laki pada fase remaja menuju kedewasaan.
Sebelum disunat, anak laki-laki itu dimandikan dengan air kembang oleh anggota keluarga yang dituakan kemudian memakai busana Jawa lengkap. Selanjutnya dilakukan prosesi ngabekten atau sungkem kepada orang tua dan dimulailah prosesi sunatan yang dilakukan oleh Bong Supit atau mantri sunat atau saat ini juga bisa dilakukan oleh Dokter, selanjutnya pada malam harinya diadakan kenduri dan doa bersama.
 
Tetesan
Masyarakat Jawa juga mengenal tetesan, yaitu tradisi sunat untuk anak perempuan dengan cara membersihkan organ kewanitaannya menggunakan kunyit, yang biasanya dilakukan pada usia delapan sampai sepuluh tahun. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, tetesan dilakukan untuk membuang sial agar terbebas dari segala jenis gangguan dan halangan, jika tidak dilakukan anak akan menjadi klunthing atau tidak bisa tumbuh dan berkembang secara wajar.
Acara selametan dilaksanakan sebelum anak ditetes dengan menyajikan nasi tumpeng dan berbagai ubarampe lainnya. Setelah ditetes, anak harus meminum telur kampung mentah lalu dilanjutkan dengan prosesi siraman oleh nenek, ibu, ayah, dan tujuh kerabat perempuan. Kemudian anak dipakaikan busana adat Jawa lengkap dan acara dilanjutkan dengan jamuan makan yang disebut jagongan wadon.
 
Taraban
Taraban berasal dari kata tarab yang berarti haid atau menstruasi, yaitu upacara adat selamatan bagi anak perempuan yang mendapatkan haid pertama kali, biasanya berusia 11-16 tahun, dengan tujuan mengumumkan kepada masyarakat bahwa anak perempuan tersebut sudah akil baligh atau melewati masa kanak-kanak menuju masa remaja dan dewasa, serta mendoakannya supaya diberi keselamatan dari hal-hal yang bersifat gaib.
Pelaksanaan upacara taraban dilakukan selama tujuh hari setelah permulaan haid pertama. Di masa lampau, si anak harus dipingit atau tidak diperkenankan keluar rumah, dijaga oleh ibu atau saudara perempuan, dan pada malam hari para pinisepuh atau orang tua/yang dituakan melakukan tuguran atau tidak tidur di malam hari secara bergiliran. Selama dipingit, anak akan diberi nasihat mengenai tugas, kewajiban, pantangan, dan anjuran yang harus dilakukan sesudah memasuki masa dewasa, serta cara-cara menjaga kesehatan, kebugaran dan kecantikan perempuan. Setelah itu dilakukan prosesi siraman, kemudian si anak perempuan tadi berganti baju dengan pakaian adat lengkap dan diberi ramuan jamu mamahan yaitu ramuan jamu yang dikunyah, jamu godhogan yaitu ramuan jamu yang diminum dan telur mentah, dengan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran.
 
 
/ND