SUMBU FILOSOFIS JOGJA


18/02/2020 Administrator


Sumbu imajiner dan sumbu filosofi Jogja adalah dua hal yang berbeda. Sumbu imajiner adalah garis lurus yang membujur dari utara ke selatan yang menghubungkan Gunung Merapi – Kraton – Laut Selatan sebagai lambang keselarasan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam yang ditandai dengan lima unsur yaitu air, api, tanah, bumi, dan udara. Sedangkan sumbu fiosofi Jogja adalah garis lurus dari selatan ke utara berupa jalan yang menghubungkan Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, dan Tugu Pal Putih sebagai gambaran perjalanan kehidupan manusia sejak lahir hingga kembali ke tempat Sang Pencipta atau Sangkan Paraning Dumadi (dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali).
 
Dari Panggung Krapyak lurus ke arah utara menuju Keraton Yogyakarta menggambarkan proses kelahiran manusia hingga menjadi dewasa (sangkaning dumadi), sedangkan dari Keraton Yogyakarta menuju Tugu Pal Putih menggambarkan perjalanan manusia menuju kematian (paraning dumadi).
 
Panggung Krapyak digambarkan sebagai yoni atau rahim perempuan, tempat dikandungnya bayi. Di sebelah utara Panggung Krapyak terdapat Kampung Mijen (sekarang Minggiran) yang berasal dari kata wiji atau benih, namun juga dapat diartikan sebagai mijil yang berarti kelahiran manusia.
Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing merupakan simbol pertumbuhan manusia dari anak-anak hingga remaja.
Alun-Alun Kidul dengan tiga jenis pohon mangga yaitu pakel, pelem dan kweni dimana pakel dimaksudkan sebagai akil yang menandakan manusia dewasa harus akil, maksudnya bisa menggunakan akal untuk membedakan baik dan buruk;  pelem atau gelem, yang dimaksudkan harus mau menjalankan syariat Islam, dan kweni atau wani, yang berarti harus berani bertanggung jawab atas segala tindakan dan ucapannya.
Keraton Yogyakarta berada di tengah antara Panggung Krapyak dan Tugu Pal Putih, menggambarkan kehidupan manusia setelah dewasa yang dihadapkan pada kewajiban dan tanggung jawab.
Alun-Alun Lor menggambarkan manusia dengan sesamanya (hablumminannas) yang ditandai dengan penggunaan alun-alun sebagai pusat kegiatan masyarakat dan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah) yang ditandai dengan adanya Masjid Gedhe Kauman di sisi barat alun-alun, memiliki makna agar manusia senantiasa ingat dengan Sang Pencipta.
Bangsal Pengurakan yang dulunya berfungsi sebagai tempat ngurak atau mengusir orang-orang yang tidak taat aturan atau dengan kata lain mengusir hal-hal negatif.
Pasar Beringharjo adalah simbol godaan harta atau kekayaan, manusia yang berhasil melewati godaan ini akan berjalan dalam kemuliaan (Margamulya).
Kepatihan sebagai simbol godaan kedudukan atau jabatan, manusia yang lolos dari godaan ini akan menuju keutamaan (Margatama).
Malioboro berasal dari kata wali dan ngumbara, memiliki makna bahwa manusia harus mengikuti ajaran para wali dan menyebarkan kebaikan selama hidup di dunia.
Tugu Golong Gilig merupakan simbol Manunggaling Kawula Gusti yaitu kembalinya manusia ke hadapan Sang Pencipta. Namun Tugu Golong Gilig yang asli telah runtuh saat gempa pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI dan dibangun kembali pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan perubahan bentuk dan nama menjadi Tugu Pal Putih.