SH MINTARDJA


21/06/2020 Administrator


SINGGIH HADI MINTARDJA
(26 Januari 1933 – 18 Januari 1999)
 
Di masa tahun 1970an ketika pembaca buku di Indonesia tengah gandrung akan cerita silat berlatar Tionghoa yang dipelopori oleh Kho Ping Hoo, pria kelahiran Yogyakarta bernama lengkap Singgih Hadi Mintardja ini muncul sebagai pionir cerita silat berlatar Jawa.
 
Lebih dikenal dengan nama SH Mintardja, karirnya sebagai penulis dimulak sejak ia SMP dengan mulai mengisi majalah dinding sekolah hingga dikenal sebagai penulis naskah sandiwara radio yang sering dikumandangkan oleh RRI Yogyakarta. Setelah lulus SMA, ia bekerja di Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan pada tahun 1958 dan kemudian pindah di Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud DIY hingga pensiun di tahun 1989.
 
Meski memulai karir menulisnya sebagai hobi, nama SH Mintardja dikenal masyarakat sebagai penulis cerita silat Jawa terkemuka karena ceritanya yang berkisah tentang pertarungan silat berpadu kebudayaan Jawa dengan alur cerita yang makin lama makin memuncak, kemudian dengan perlahan mereda dan muncullah petuah-petuah yang sarat akan pesan agar kita saling mencintai sesama umat manusia.
 
Berbekal pengetahuan sejarah dan ditambah mendalami kitab Babad Tanah Jawi, SH Mintardja menghasilkan rentetan judul fenomenal dengan dua karya terpopulernya yakni Nagasasra Sabuk Inten dan Api di Bukit Menoreh yang ia tulis sebagai cerita bersambung (cerber) di Harian Kedaulatan Rakyat. Bahkan Api di Bukit Menoreh yang mengambil kisah berdirinya kerajaan Mataram Islam merupakan cerber koran paling panjang di Indonesia bahkan dunia, terdiri dari 396 seri yang ditulis selama hampir tiga dekade dan terpaksa berhenti saat SH Mintardja tutup usia, karena tidak ada yang bisa melanjutkannya. Saking populernya, cerita ini juga sempat diangkat ke layar lebar pada tahun 1972 dengan judul Sisa-Sisa Laskar Pajang.
 
Selain mengarang cerita silatnya sendiri, SH Mintardja juga tidak menolak cerita pesanan seperti cerita untuk pementasan ketoprak. Bahkan salah satu naskahnya yang berjudul Sumunaring Suryo ing Gagat Raino disukai Sultan Hamengku Buwono X, bercerita tentang alih kekuasaan dari Pajang ke Mataram dan dipentaskan di Keraton Yogya pada November 1996.
 
Dalam pengabdiannya di bidang seni sastra dan seni teater tradisional, SH Mintardja telah banyak mendapatkan penghargaan, baik dari Pemerintah Daerah maupun Instansi Pemerintah dan Swasta, diantaranya (1) Piagam penghargaan dan paket over Kowilhan II dalam rangka HUT VI Kowilhan II pada tahun 1976 sebagai penulis; (2) Penghargaan seni dari Pemda Tk.II Kodya Yogyakarta tahun 1988 untuk cabang seni sastra, dan (3) Penghargaan seni dari Pemda Tk.I Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1984 sebagai penulis dari cabang seni sastra Indonesia.
 
Beberapa karya SH Mintardja, antara lain: Api di Bukit Menoreh (396 episode); Tanah Warisan (8 episode); Matahari Esok Pagi (15 episode); Meraba Matahari (9 episode); Suramnya Bayang-bayang (34 episode); Sayap-sayap Terkembang (67 episode); Istana yang Suram (14 episode); Nagasasra Sabukinten (16 episode); Bunga di Batu Karang (14 episode); Yang Terasing (13 episode); Mata Air di Bayangan Bukit (23 episode); Kembang Kecubung (6 episode); Jejak di Balik Bukit (40 episode); Tembang Tantangan (24 episode); Seri Arya Manggada (Menjenguk Cakrawala; Mas Rara; Sang Penerus; Sejuknya Kampung Halaman) dan juga Seri Pelangi di Singosari:
Pelangi Di Langit Singosari (50 Jilid); Bara Di Atas Singgasana – Serial Pelangi Di Langit Singosari (29 Jilid) Bagian 1 dan 2; Sepasang Ular Di Satu Sarang (37 Jilid); Panasnya Bunga Mekar (31 Jilid); Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan (118 Jilid).
 
SH Mintardja tinggal di Kampung Daengan, Gedongkiwo, Yogyakarta, yang menikah dengan Suhartini dan memiliki delapan anak serta dua belas cucu, hingga menghembuskan nafas terakhir pada usia 66 tahun di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta setelah sebulan dirawat karena menderita penyakit ginjal dan jantung. Jenazahnya dikebumikan di permakaman Arimatea Jalan Tamansiswa, Yogyakarta.
 
 
/AI