PURA PAKUALAMAN


14/01/2020 Administrator


LOKASI
Pura Pakualaman terletak di Jalan Sultan Agung, Kota Yogyakarta, merupakan komplek Kadipaten Pakualaman yang menjadi tempat tinggal resmi para Adipati Paku Alam, saat ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya
 
 
SEJARAH
Pura Pakualaman berdiri setelah ada kontrak politik antara Pangeran Notokusumo (saudara tiri Hamengku Buwono II) dan Pemerintah Inggris pada tahun 1813 setelah tentara Inggris berhasil melumpuhkan Kraton Yogyakarta dan mengakibatkan Sultan Hamengku Buwono II diasingkan. Sebagai gantinya, Pemerintah Inggris mengangkat Pangeran Adipati Anom menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono III dan Pangeran Notokusumo diangkat sebagai sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I dengan wilayah dan pemerintahan baru di luar wilayah kesultanan bernama Kadipaten Pakualaman, yang meliputi area khusus di dalam Kota Yogyakarta dan kawasan yang disebut Adikarto (sekarang terletak di Kabupaten Kulon Progo bagian selatan) seluas 4.000 cacah.
 
Semula Pura Pakualaman merupakan lembaga yang mengurusi raja dan keluarga disamping menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Pakualaman. Setelah Kadipaten Pakualaman dan Kasultanan Yogyakarta secara resmi diubah statusnya dari negara menjadi Daerah Istimewa setingkat Provinsi pada 1950, Pura Pakualaman mulai dipisahkan dari Pemerintahan Daerah Istimewa dan menjadi sebuah Lembaga Pemangku Adat Jawa yang berperan sebagai pelindung dan penjaga identitas budaya Jawa khususnya gaya Pakualaman Yogyakarta. Sementara Sri Paduka Paku Alam selain sebagai Kepala Pura Pakualaman juga memiliki kedudukan khusus di bidang pemerintahan sebagai bentuk keistimewaan daerah Yogyakarta, yaitu menjadi Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
 
 
KOMPLEK PURA PAKUALAMAN
Kompleks Pura Pakualaman lebih kecil dan lebih sederhana dibandingkan dengan Keraton Yogyakarta. Selain itu, berbeda dengan Kraton Kasultanan yang menghadap ke Merapi atau ke Utara, Pura Pakualaman menghadap ke arah Selatan sebagai bentuk pernghormatan kepada Keraton Yogyakarta yang lebih dulu berdiri.
 
Pura Pakualaman juga terdiri dari beberapa bangunan dalam satu kompleks seluas 5,4 hektar yang dilengkapi dengan alun-alun, masjid, pasar dan dikelilingi pemukiman penduduk, ndalem (tempat tinggal) para Pangeran serta bangunan dan fasilitas lain yang sekarang berada di wilayah Kecamatan Pakualaman.
 
 
BANGUNAN DI KOMPLEK PURA PAKUALAMAN:
Komplek Pura Pakualaman dengan Gerbang Utama terdapat dan menghadap ke arah Selatan, dengan beberapa area dan bangunan, yaitu:
Alun-alun Sewandanan dengan pohon beringin di sebelah kiri-kanannya.
Masjid Agung Pura Pakualaman, di sebelah Barat Daya dari Gerbang Utama
Regal Danawara, gerbang utama dengan bagian atas regol berbentuk kampung sratang dan kiri­kanan pintu gerbang dengan bangunan berbentuk limasan emper sebelah. Di sana terdapat sengkalan atau susunan aksara yang menandakan tahun didirikannya Pura Pakualaman, yang tertulis Wiwara Kusuma Winayang Reka yang berarti “pintu yang terungkap dalam wujud cipta” dimaksudkan tahun 1669 perhitungan Jawa atau tahun 1884 Masehi.
Bangsal Sewatama yang diapit oleh Gandhok Wetan dan Gandhok Kulon.
Ndalem Ageng Prabasuyasa, bangunan inti Pura Pakualaman, di sebelah Utara Bangsal Sewatama, dengan tiga ruang, yaitu Senthong Tengah, Senthong Tengen, dan Senthong Kiwa.
Bangsal Sewarengga, di sebelah Utara Ndalem Ageng Prabasuyasa terdapat bangunan tanpa dinding, yang dulunya digunakan sebagai ruang tunggu para pegawai yang diberi tugas oleh Paku Alam.
Gedhong Purwaretna, di sisi Timur Bangsal Sewatama yang dihiasi ukir-ukiran kayu tembus pandang (krawangan), dibangun pada masa Paku Alam VII.
Bangsal Parangkarsa yang terletak di sisi Barat Bangsal Sewatama, yang digunakan untuk tempat persiapan perkawinan putra-putri Paku Alam dan juga untuk menginap para tamu negara yang berkunjung ke Pura Pakualaman.
Gedhong Maerakaca, terletak di bagian belakang, bergaya Eropa dengan dinding-dinding kaca yang dilengkapi dengan kamar mandi, ruang makan, ruang busana dan ruang santai di bagian atas.
Halaman belakang dari istana Pura Pakualaman terletak di utara Bangsal Sewarengga dimana pada sisi Baratnya terdapat bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal para abdi Narakarya (abdi dalem urusan pertukangan), dan bangunan di sisi paling timur digunakan untuk gudang perlengkapan rumah tangga Pura Pakualaman.
Selain
 
 
KESENIAN DAN KEBUDAYAAN PURA PAKUALAMAN
Saat ini Pura Pakualaman memiliki prajurit yang disebut Bregada Lombok Abang dan Bregada Plangkir, dimana setiap 35 hari sekali pada hari Setu Kliwon (Sabtu Kliwon) dilakukan prosesi Upacara pergantian prajurit dilanjutkan dengan prosesi patroli di seputar area Pura Pakualaman dan atraksi kesenian rakyat seperti Jathilan dan Seni Angguk, di Alun-Alun Sewandanan.
 
Beberapa beksan (tarian) dari Pura Pakualaman antara lain Bedhaya Sri Kawuryan (karya Sri Paduka Paku Alam IX), Beksan Bandabaya, Bendhaya Kembang Mas, Beksan Wijayakusumajana, Beksan Puri Melati, beksan Golek Prabudenta dan Beksan Lawung Alit.