PEMAKAMAN IMOGIRI


20/02/2020 Administrator


Pasarean Imogiri atau Pemakaman Imogiri merupakan kompleks makam para raja Kerajaan Mataram Islam dan keturunannya yang berada di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Imogiri berasal dari kata hima (kabut) dan giri (gunung), yang bisa diartikan sebagai gunung yang diselimuti kabut. Makam ini awalnya dibangun oleh Sultan Agung, Raja ketiga Kerajaan Mataram Islam, pada tahun 1632 dengan arsitek Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo yang memadukan unsur Jawa, Hindu dan Islam serta membangun masjid di wilayah makam.
 
Karena lokasinya yang berada di atas bukit, untuk mencapai komplek Pasarean Imogiri harus mendaki ratusan anak tangga yang sangat tinggi, bahkan konon jika dihitung oleh para peziarah tidak pernah sama jumlah anak tangganya. Pemilihan bukit sebagai lokasi makam tidak dapat dilepaskan dari konsep masyarakat Jawa pra Hindu yang memandang bukit, atau tempat yang tinggi, sebagai suatu tempat yang sakral dan menjadi tempat bersemayamnya roh nenek moyang, dimana semakin tinggi tempat pemakaman, maka semakin tinggi pula derajat kemuliaannya.
 
Susunan dan struktur bangunan Pemakaman Imogiri berbentuk segitiga yang dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:
Astana Kasultan Agung, merupakan bagian paling atas dimana terdapat makam Sultan Agung, istri Sultan Agung, Kanjeng Ratu Batang serta Amangkurat II, dan Amangkurat III.
 
Wilayah Makam Raja-raja Surakarta, terletak di sebelah barat, terdapat empat Astana atau Kedhaton, merupakan tempat dimakamkannya Paku Buwono I hingga XII, yaitu:
Pakubuwanan, terdapat makam Sri Susuhunan Paku Buwana I, Amangkurat IV, Sri Susuhunan Paku Buwana II
Kasuwargan Surakarta, terdapat makam Sri Susuhunan Paku Buwana III, Sri Susuhunan Paku Buwana IV, Sri Susuhunan Paku Buwana V
Kapingsangan Surakarta, terdapat makam Sri Susuhunan Paku Buwana VI, Sri Susuhunan Paku Buwana VII, Sri Susuhunan Paku Buwana VIII, Sri Susuhunan Paku Buwana IX
Girimulya Surakarta, terdapat makam Sri Susuhunan Paku Buwana X, Sri Susuhunan Paku Buwana XI, Sri Susuhunan Paku Buwana XII
 
Wilayah Makam Raja-raja Yogyakarta, terletak di sisi timur, menjadi wilayah makam Raja-raja Kasultanan Yogyakarta, terdapat tiga Astana atau Kedhaton menjadi tempat dimakamkannya Hamengku Buwono I hingga IX, kecuali Hamengku Buwono II yang dimakamkan di Kotagede, yaitu:
Kedhaton Kasuwargan, terdapat makam Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Sri Sultan Hamengku Buwana III.
Kedhaton Besiyaran, terdapat makam Sri Sultan Hamengku Buwana IV, Sri Sultan Hamengku Buwana V, dan Sri Sultan Hamengku Buwana VI.
Kedhaton Saptarengga, terdapat makam Sri Sultan Hamengku Buwana VII, Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, Sri Sultan Hamengku Buwana IX.
 
Sebelum memasuki area makam Sultan Agung, terdapat empat buah padhasan atau gentong berisi air yang berada di atas gerbang kedua. Gentong-gentong tersebut merupakan hadiah untuk Sultan Agung dari kerajaan-kerajaan sahabat, yaitu Gentong Nyai Siyem dari Siam, Gentong Kyai Mendung dari Rum (Turki), Gentong Kyai Danumaya dari Aceh, dan Gentong Nyai Danumurti dari Palembang. Oleh Sultan Agung, keempat gentong tersebut dipergunakan untuk berwudhu, dimana airnya dianggap suci serta memiliki khasiat dapat memberi kekuatan dan sarana pengobatan.
 
Pada awalnya tidak sembarang orang yang dapat meminum air dari gentong-gentong tersebut. Namun sekarang, air ini boleh diminum dan diambil oleh masyarakat umum selama masih ada air yang tersisa, karena tidak sembarang hari gentong tersebut dapat diisi air. Untuk mengisi sekaligus membersihkan keempat gentong ini dengan upacara khusus dinamakan Nguras Enceh yang dilaksanakan setahun sekali pada hari Jumat Kliwon di bulan Sura (Muharam) atau pada hari Selasa Kliwon jika di bulan tersebut tidak ada hari Jumat Kliwon.
 
Meski Kompleks Pemakaman Imogiri dibuka setiap hari, namun area pemakamannya hanya dibuka pada hari Senin, Jumat, Minggu dan pada tanggal tertentu, setiap tanggal 1 dan 8 bulan Syawal serta tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Untuk masuk ke dalam area pemakaman, pengunjung harus mengenakan baju tradisional Jawa, dimana laki-laki harus memakai beskap, kain, sabuk, timang, samir dan blangkon, sedangkan perempuan harus mengenakan kemben dan kain panjang. Selama di pemakaman, pengunjung juga harus berlaku sopan, tidak boleh memotong pohon atau merusak tanaman, dan tidak boleh berburu. Meskipun Makam Raja Imogiri telah terbuka untuk masyarakat umum, namun ada beberapa area khusus yang hanya boleh dimasuki oleh keluarga raja.
 
 
/VA /AI