NYI CONDROLUKITO


12/02/2020 Administrator


NYI CONDROLUKITO
(20 April 1920 - November 1997)
 
Bernama lahir Turah, merupakan seorang pesinden legendaris abad 20. Ia telah berlatih menari dan olah vokal sebagai abdi di Dalem Danurejan sejak usia 12 tahun dan mendapat nama Penilaras. Setelah Patih Danureja meninggal, ia mengabdi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan diangkat menjadi seniman keraton dengan nama Padhasih oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Sejak ia menikah pada tahun 1937 dengan Romo Condrolukito, seorang abdi dalem sekaligus bangsawan ahli seni tari Jawa, Padhasih lebih dikenal dengan nama Nyi Condrolukito.
 
Nyi Condrolukito memulai karirnya dengan bernyanyi untuk RRI pada masa awal kemerdekaan. Selain mengiringi pertunjukan wayang kulit dan iringan tarian, ia juga menyanyikan uyon-uyon khas Yogyakarta atau Mataraman. Nyi Condrolukito tidak hanya populer, namun juga kontroversial karena menabrak pakem-pakem klasik dan tak jarang berinovasi. Selama hidupnya, ia telah menciptakan setidaknya 200 tembang dan lebih dari 100 album rekaman. Karya-karyanya yang terkenal yaitu Jineman Kutut Manggung dan Uler Kambang yang hingga kini mejadi panutan semua pesinden.
 
Selama hidupnya, Nyi Tjondrolukito teguh menjaga nama baik serta mengembalikan peran pesinden sebagai seniman sejati dan membaktikan seluruh hidupnya untuk menghidupkan kesenian karawitan. Selain itu, Nyi Condrolukito bersama sang suami juga mendirikan Sekolah Tari Ngesti Budaya.
 
Untuk mengenang jasa dan kiprahnya memajukan dunia sinden Indonesia, nama Nyi Condrolukito kemudian diabadikan menjadi salah satu nama jalan besar di Yogyakarta, yaitu sepanjang ruas jalan menuju Monumen Jogja Kembali.
 
[NYI TJONDROLUKITO - ULER KAMBANG]
 
 
/ND /AI