JENDERAL BESAR SOEDIRMAN


13/01/2020 Administrator


JENDERAL SOEDIRMAN
(24 Januari 1916 - 29 Januari 1950)
 
Jenderal Besar Raden Soedirman adalah tokoh pahlawan Nasional yang dikenal sebagai Jenderal Tentara Nasional Indonesia pertama dan juga perwira tinggi pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Lahir di Purbalingga dari pasangan Karsid Kartawiradji dan Sijem, Soedirman kecil tumbuh dalam asuhan ayah angkat sekaligus pamannya, Raden Tjokrosunarjo, yang kemudian memberi Soedirman gelar Raden karena sudah dianggap sebagai anak sendiri. Keluarganya pindah ke Cilacap pada akhir tahun 1916 setelah Tjokrosunaryo pensiun sebagai camat. Soedirman tidak diberitahu tentang orang tua aslinya hingga ia berusia 18 tahun.
 
Soedirman dibesarkan dengan cerita-cerita kepahlawanan, etika dan tata krama priyayi, serta etos kerja dan kesederhanaan wong cilik atau rakyat kecil yang kemudian memupuk rasa nasionalismenya. Sejak kecil ia juga dikenal sebagai sosok yang sangat taat pada ajaran agama Islam.
 
Saat berusia tujuh tahun, Soedirman terdaftar di sekolah pribumi HIS (Hollandsch Inlandsche School) dan pindah ke Taman Siswa pada tahun ke tujuh. Tahun berikutnya ia pindah ke Sekolah Wirotomo karena Taman Siswa dianggap ilegal oleh Pemerintah Belanda. Di sekolah inilah pandangannya tentang penjajahan meningkat tajam.
 
Setelah lulus dari Wirotomo, Soedirman belajar selama satu tahun di Kweekschool (sekolah guru) yang dikelola oleh Muhammadiyah di Surakarta, tetapi berhenti karena kekurangan biaya. Pada 1936, ia kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar Muhammadiyah. Pada tahun yang sama, Soedirman menikahi Alfiah, teman semasa sekolahnya dan putri seorang pengusaha batik kaya bernama Raden Sastroatmodjo.
 
Awal mula Soedirman memasuki dunia militer ketika ia diminta bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang pada tahun 1944. Kepiawaiannya dalam memimpin pasukan mengantarkan Soedirman menjadi komandan PETA, hingga pada tahun 1945 tentara PETA mulai melancarkan pemberontakan terhadap Jepang. Diperintahkan untuk menghentikan pemberontakan tersebut, Soedirman mengajukan syarat agar pemberontak PETA tidak dibunuh. Jepang menyetujui hal tersebut meski akhirnya pemberontak berhasil menembak komandan Jepang dan Soedirman beserta anak buahnya dikirim ke sebuah kamp di Bogor untuk dipekerjakan secara kasar.
 
Setelah masa kependudukan Jepang berakhir, Soedirman memimpin pelarian bersama rekan-rekannya dari Bogor untuk bertemu dengan Soekarno-Hatta di Jakarta dan membantu perlawanan terhadap pasukan Jepang pasca proklamasi kemerdekaan, dimana dia diminta untuk menjabat sebagai anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) cabang Banyumas. Pada November 1945 Soedirman terpilih menjadi pemimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan dilantik sebagai Panglima Besar TKR, yang menjadikannya sebagai Panglima pertama dan juga termuda (usia 29 tahun) sepanjang sejarah Indonesia.
 
Karier kemiliteran Soedirman menanjak dengan drastis. Prestasinya sebagai pemimpin berbagai pertempuran membuat Soedirman disejajarkan dengan para petinggi militer yang lebih senior darinya. Salah satu yang paling terkenal dari Soedirman adalah perang gerilya, dipicu oleh Belanda yang menguasai Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia saat itu dalam Agresi Militer Belanda II, bersama pasukannya melakukan perlawanan secara bergerilya melewati daerah yang membentang antara Yogyakarta, Panggang, Wonosari, Pracimantoro, Wonogiri, Purwantoro, Ponorogo, Sambit, Trenggalek, Bendorejo, Tulungagung, Kediri, Bajulan, Girimarto, Warungbung, Gunungtukul, Trenggalek (lagi), Panggul, Wonokarto dan Sobo. Meyakini bahwa Sobo aman, Soedirman memutuskan untuk menggunakannya sebagai markas gerilya. Dalam perjalanannya, Soedirman merencanakan grand design pertempuran kota yang menjadi cikal bakal peristiwa Serangan Umum 1  Maret di Yogyakarta.
 
Pergerakan pasukan Soedirman sukses membuat Belanda kewalahan, hingga pada Mei 1949 Indonesia dan Belanda menggelar perundingan dan menghasilkan Perjanjian Roem-Royen yang salah satu poinnya menyatakan bahwa Belanda harus menarik pasukannya dari Yogyakarta. Soedirman pun mengakhiri masa gerilyanya setelah Soekarno memberi perintah untuk kembali ke Yogyakarta. Perjalanan dari Sobo menuju Yogyakarta melewati Baturetno, Gajahmungkur, Pulo, Ponjong, Piyungan, Prambanan dan baru pada tanggal 10 Juli 1949 Soedirman kembali ke Yogyakarta.
 
Rute gerilya Jenderal Soedirman tercatat sejauh 1.009 kilometer yang ditempuh selama 7 bulan 28 hari. Dalam melakukan pergerakan, pasukan gerilya lebih banyak berjalan kaki dengan Soedirman memimpin pasukan dari atas tandu karena kondisinya yang lemah akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Sadar akan kondisi fisiknya, Soedirman tetap berjuang demi membuat Indonesia diakui dunia.
 
Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 melalui Republik Indonesia Serikat (RIS). Tepat satu bulan setelahnya, pada Januari 1950 Soedirman wafat di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki, Yogyakarta.