SEJARAH JOGJA


Administrator


BERAWAL DARI...

MATARAM ISLAM/KOTAGEDE
Sejarah JOGJA dan Keraton Ngayogyakarta diawali dari Kesultanan Mataram Islam (1587) yang didirikan oleh Raden Bagus, Danang Sutawijaya atau Raden Ngabehi Loring Pasar yang selanjutnya bergelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayiddin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa (1587-1601) di daerah Alas/Hutan Mentaok atau kawasan Kotagede (saat ini), yang menguasai wilayah timur Jawa. Kekuasaan Mataram Islam selanjutnya beralih ke RM. Jolang, yang bergelar Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati Ing Ngalaga Mataram (1601-1613). Berikutnya, diganti (hanya sehari) oleh RM. Wuryah dan dilanjutkan oleh RM. Rangsang/RM. Jatmika (1613-1645) yang bergelar Panembahan Hanyakrakusuma, Prabu Pandhita Hanyakrakusuma, Susuhunan Agung Hanyakrakusuma dan selanjutnya menggunakan gelar Sultan Agung Senapati Ing Ngalaga Abudrrahman yang juga mendapat gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram dari pemimpin Mekkah. Pada masa itu, wilayah Mataram meluas ke seluruh wilayah timur Pulau Jawa, termasuk dua kali usahanya untuk menguasai VOC di Batavia (skg: Jakarta) disamping berkembangnya seni dan budaya,antara lain Penggunaan Bahasa Bagongan Kalangan Bangsawan; Pemaduan Kalender Hijriyah dan Kalender Saka; Pembangunan Astara Imogiri; Penciptaan Karya Sastra (Serat Sastragendhing); Falsafah Kepemimpinan Jawa, dan sebagainya Hingga pada akhirnya Mataram Islam dipimpin oleh RM. Sayidin dengan gelar Sri Susuhunan Amangkurat Agung atau Amangkurat I (1645-1677), yang memindahkan ibukota dari Kerta ke Pleret, mengalami kemunduran karena berbagai sebab antara lain kepemimpinan yang otoriter, terganggunya hubungan antar negara, banyaknya pemberontakan, terutama Pemberontakan Trunajaya. Setelah mangkatnya Amangkurat I, berakhirlah Kasultanan Mataram Islam yang dilanjutkan dengan berdirinya Kasunanan Kartasura. Saat ini Kompleks Keraton Mataram Islam di Kota Gede tersebut menjadi bagian dari wilayah Kota Yogyakarta di bagian tenggara, yang meninggalkan sebagian bekas benteng, pemakaman dan masjid.

KASUNANAN KARTASURA
Setelah melalui berbagai permasalahan sejak bubarnya Kesultanan Mataram Islam, RM. Rahmat mendirikan istana Kasunanan Kartasura di Wanakerta, Kartasura, bergelar Sunan Amangkurat II (1680-1702), dilanjutkan oleh Sunan Amangkurat III (RM. Sutikna, 1702-1705), Paku Buwana I (Pangeran Puger, 1705-1719), Amangkurat IV (RM. Suryaputra, 1719-1726) hingga wafatnya Paku Buwana II (RM. Prabasuyasa, 1726-1742)

KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT
Setelah Keraton Kasunanan Kartasura hancur, pusat kerajaan dipindah ke daerah Sala, Surakarta dengan RM. Suryadi sebagai raja bergelar Sri Susuhunan Paku Buwana III (1749-1788) dan dilanjutkan oleh Sri Susuhunan Paku Buwana IV (RM. Subadya, 1788-1820), Sri Susuhunan Paku Buwana V (RM. Sugandi, 1820-1823), Sri Susuhunan Paku Buwana VI (RM. Supardan, 1823-1830), Sri Susuhunan Paku Buwana VII (RM. Malikis Solikin, 1830-1858), Sri Susuhunan Paku Buwana VIII (RM. Kusen, 1859-1861), Sri Susuhunan Paku Buwana IX (RM. Duksina, 1861-1893), Sri Susuhunan Paku Buwana X (RM. Malikus Kusno, 1893-1939), Sri Susuhunan Paku Buwana XI (RM.antasena, 1939-1945), Sri Susuhunan Paku Buwana XII (RM. Suryaguritna, 1945-2004) hingga saat ini oleh Sri Susuhunan Paku Buwana XIII (RM. Hangabehi, 2004-sekarang) Pada masa Paku Buwana III, terjadi perpecahan yang melibatkan VOC dan berakhir dengan Perjanjian Giyanti (1755), sebagai awal berdirinya Keraton Ngayogyakartahadiningrat.

PRAJA MANGKUNEGARAN
Akibat dari Perjanjian Giyanti tersebut, RM. Said melanjutkan perundingan yang menghasilkan Perjanjian Salatiga (1757) dan melahirkan daerah baru bernama Praja Mangkunegaran, di bawah tlatah/daerah kekuasaan Kasunanan Surakarta, dengan RM. Said/Pangeran Sambernyawa sebagai raja dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara (Mangkunegara I, 1757-1795), yang dilanjutkan oleh KGPAA. Mangkunegara II (RM. Sulomo, 1795-1835), KGPAA. Mangkunegara III (RM. Sarengat, 1835-1853), KGPAA. Mangkunegara IV (RM. Sudira, 1853-1881), KGPAA. Mangkunegara V (RM. Sunito, 1881-1896), KGPAA. Mangkunegara VI (RM. Suyitno, 1896-1916), KGPAA. Mangkunegara VII (RM. Surya Suparto, 1916-1944), KGPAA. Mangkunegara VIII (RM. Hamijoyo Saroso, 1944-1987) hingga saat ini dipimpin oleh KGPAA. MangkunegaraIX (GPH. Sujiwakusuma, 1987-sekarang)

KASULTANAN NGAYOGYAKARTAHADININGRAT
Berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755), Pangeran Mangkubumi (RM. Sujana) mendapat separuh dari Wilayah Kasunanan Surakarta itu diangkat sebagai Sultan di Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, (selanjutnya membuka wilayah baru di daerah Pabringan yang dinamakan Ngayogyakartahadiningrat (7 Oktober1756, menjadi Hari Jadi Kota Yogyakarta). Kepemimpinan Kasultanan Ngayogyakartahadiningrat dilanjutkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II (RM. Sundoro, 1792-1828), Sri Sultan Hamengku Buwono III (RM. Surojo, 1769-1804), Sri Sultan Hamengku Buwono IV (Ibnu Jarot/Sultan Seda Ing Pesiyar, 1804-1822), Sri Sultan Hamengku Buwono V (RM. Menol, 1820-1826 dan 1828-1855), Sri Sultan Hamengku Buwono VI (RM. Mustoyo, 1855-1877), Sri Sultan Hamengku Buwono VII (RM. Murtejo/Sultan Sugih/ Pangeran Bagun Tapa, 1877-1920 turun tahta), Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (RM. Puruboyo, 1920-1940), Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sunuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senipati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayiddin Panatagama Kalifatullah Kaping Sanga (BRM. Dorojatun, 1940-1988) hingga saat ini oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X (BRM. Herjuno Darpito, 1988-sekarang)  

KADIPATEN PAKUALAMAN
Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Raffles (17 Maret 1813) yang mengangkat Pangeran Notokusumo sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Paku Alam I (1829-1829) dan dilanjutkan oleh KGPA Paku Alam II (GPH. Notodiningrat, 1829-1858), KGPA Paku Alam III (GPH. Sasraningrat, 1858-1864), KGPA Paku Alam IV (GPH. Nataningrat, 1864-1878), KGPA Paku Alam V (GPH. Suryodilogo, 1878-1900), KGPA Paku Alam VI (GPH. Notokusumo, 19001-1902), KGPA Paku Alam VII (GPH. Surarjo, 1903-1938), KGPA Paku Alam VIII (GPH. Sularso Kunto Suratno, 1938-1998), KGPA Paku Alam IX (GPH. Ambarkusumo, 1987-2016) hingga kini KGPA Paku Alam X (KBPH Prabu Suryodilogo, 2016-sekarang)      

SELANJUTNYA. . .
Setelah terbentuknya KasultananYogyakarta, dibuat berbagai bangunan dan sarana untuk melengkapi wilayahnya,antara lain Keraton, Masjid, Alun-Alun, pasar, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan keagamaan, perekonomian dan kegiatan masyarakat, yang masih bisa disaksikan hingga saat ini.    

 

JOGJA MASA LALU  

WILAYAH YOGYAKARTA
Sejak Keraton Yogyakarta berdiri, Perkembangan JOGJA sangat pesat, dari pembangunan Tugu Golong Gilig (sekarang: Tugu Pal Putih), Taman Sari hingga Panggung Krapyak dan sebagainya, namun sempat terhenti dengan pecahnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830). Setelah berakhirnya Perang Diponegoro/Perang Jawa (1930) wilayah Keraton Yogyakarta dikuasai oleh Pemerintah Belanda, yang selanjutnya melakukan penataan dan pengaturan secara politik dan ekonomi. Berbagai bangunan di luar Keraton mulai dibangun, terutama sebagai bangunan militer, perkantoran dan tempat tinggal warga Eropa (Belanda), seperti Benteng Vredeburg (Loji Gede), Gedung Pertemuan (Loji Kecil), Rumah Residen/Gubernur Jenderal (sekarang: Istana Kepresidenan/Gedung Agung/Loji Kebon, 1824), hingga Loge Mataram (sekarang: Gedung DPRD DIY/Loji Setan) dan Kepatihan. Selanjutnya dibangun pula Gereja Protestan (1857), Kelenteng/Vihara, Jaringan Jalan, Kantor Pos, Rumah Sakit hingga Kantor Pengadilan untuk memenuhi kebutuhan mayarakat Eropa yang mulai berdatangan. Perumahan penduduk juga dikembangkan dan ditata, dimana untuk warga Eropa ditempatkan di daerah Kota Baru, untuk warga Tiong Hoa di daerah Ketandan, Gandekan dan Ngabean, untuk warga Arab di daerah Sayidan, dan sebagainya. Pengembangan wilayah JOGJA dilanjutkan dengan membangun permukiman baru di Jetis dan Gondokusuman, melaksanakan modernisasi sarana transportasi melalui pembangunan jalur Kereta Api, Stasiun Kereta Api Lempuyangan (1872) dan Stasiun Kereta Api Tugu (1887), jalanan untuk transportasi yang cukup panjang, jaringan listrik, hotel serta pusat perdagangan di daerah Malioboro dan Pasar Beringharjo, hingga pembangunan kawasan wisata Kaliurang, dan sebagainya. Untuk mendukung perekonomian, Keraton Yogyakarta pada masa Hamengku Buwono VII mendirikan beberapa Pabrik Gula di wilayah Yogyakarta. Pada masa pendudukan Jepang, Hamengku Buwono IX memerintahkan rakyat untuk membangun Selokan Mataram yang menghubungkan Sungai Opak dan Sungai Progo, untuk menghindari kewajiban mengirim romusha (perbudakan Jepang). 

WILAYAH KERATON
Di area Keraton Yogyakarta terdapat beberapa bangunan khusus,antara lain: Benteng Baluwerti, berupa dinding yang tebal mengelilingi Keraton, dengan Pintu Gerbang Lengkung (disebut Plengkung) dan Bastion (Tempat Penjagaan dan Pengintaian) di ke-empat sudutnya. Taman Sari, tempat rekreasi bagi Sultan dan kerabat Keraton. Selain bangunan tersebut, di kawasan itu juga dikembangkan pemukiman untuk abdi dalem dan penduduk yang dibangun dalam dua wilayah yaitu:  

JERO BETENG, atau wilayah di dalam beteng Keraton, yang menjadi permukiman para abdi-dalem Keraton, yang biasanya dinamai berdasarkan keahlian/pekerjaan/profesi abdi-dalem Keraton tersebut, seperti: - Gamelan, tempat pemukiman para pemelihara dan pembuat peralatan kuda. - Mantrigawen, tempat permukiman para Kepala Pegawai Keraton - Nagan, tempat permukiman petugas penabuh gamelan. - Namburan, tempat permukiman petugas penabuh/pemain gamelan - Patehan, tempat permukiman petugas pembuat minuman Teh - Siliran, tempat permukiman petugas pemelihara lampu penerangan keraton. dan sebagainya. . .  

JABA BETENG, atau wilayah di luar beteng Keraton, yang menjadi permukiman para pekerja dan prajurit, sesuai dengan kelompok pasukannya serta penduduk/warga masyarakat, seperti:
- Bugisan, tempat permukiman pasukan Bugis
- Dagen, tempat permukiman para tukang kayu
- Gowongan, tempat permukiman tukang bangunan
- Jlagran, tempat permukiman para tukang batu
- Jogokaryan, tempat permukiman pasukan Jogokaryo
- Mantrijeron, tempat permukiman pasukan Mantrijero
- Patangpuluhan, tempat permukiman pasukan Patangpuluh
- Prawirotaman, tempat permukiman pasukan Prawirotomo
- Pajeksan, tempat permukiman anggota jaksa
- Wirobrajan, tempat permukiman pasukan Wirobrojo dan sebagainya. . .  

KAMPUNG DI YOGYAKARTA
Pengembangan dan penamaan wilayah di Yogyakarta kadang mengikuti situasi, kondisi dan sejarah di wilayah tersebut, yang hingga kini masih digunakan untuk penyebutan wilayah tersebut, seperti:
Ngampilan, tempat pemukiman abdi dalem pembawa ampilan dalem, yaitu perlengkapan Raja sebelum duduk di singasana.
Klitren, lokasi pemukiman buruh stasiun kereta api, yang bertugas menaikkan dan menurunkan barang di stasiun, disebut ‘koeli-train’ tetapi karena orang jaman dahulu sulit menyebutnya, sehingga diucapkan menjadi ‘klitren’. Hingga saat ini, Kampung di utara Stasiun Kereta Api Lempuyangan itu, disebut ‘Klitren’.
Pengok, lokasi di dekat bengkel kereta api Lempuyangan, dulu menggunakan tanda/peluit untuk mengatur waktu kerja yang berbunyi “ngoook…!!” sehingga kampung disitu disebut pengok (dari kata: mempeng mbengok). Sekarang diganti menjadi Jalan Kusbini.
Ketandan, daerah di sebalah timur Jalan Malioboro, dari kata ‘ka-tanda-an” yang artinya tempat permukiman para tanda atau penarik pajak Kewek, di Kota Baru ke arah Jalan Malioboro, berasal dari kata Kerk Weg atau jalan gereja, karena disitu terdapat Gereja dan karena orang dulu sulit untuk menyebutnya, sehingga menjadi “kewek” hingga saat ini. Gadean, di Area Jalan Malioboro, berasal dari kata Pegadaian, karena disitu terdapat Kantor Pegadaian.
Malioboro, Berasal dari kata ‘malyabhara’ (bahasa Sanskerta) yang berarti berhiaskan untaian bunga, namun ada yang meyakini berasal dari kata Malbourough Weg (Bahasa Belanda) karena waktu dulu orang sulit untuk menyebutnya, sehingga menjadi Malioboro hingga saat ini dan nama-nama lain yang mempunyai arti dan maksud tertentu, seperti Danurejan, Gedong Kuning, Gedong Tengen, Gedong Kiwo, Gejayan, Gondokusuman, Gondomanan, Iromejan, Jetis, Kauman, Macanan, Mergangsan, Mrican, Ngabean, Ngupasan, Papringan, Ratmakan, Sapen, Serengan, Timoho, Umbulharjo, dan sebagainya    


JOGJA PADA MASA PERJUANGAN dan KEMERDEKAAN

Sebelum dan sesudah Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, JOGJA sempat memainkan peran yang sangat penting dalam memperjuangkan kemerdekaan tersebut, diantaranya:

  • Setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman serta-merta mendukung dan bergabung dengan Pemerintah Republik Indonesia.
  • Yogyakarta pernah menjadi Ibukota Negara Indonesia, pada tahun 1946-1949, saat Ibukota Jakarta diserang dan dikuasai Belanda. Presiden Soekarno, memindahkan ibukota Indonesia ke Yogyakarta dan membentuk Pemerintahan Indonesia Sementara di Bukittinggi (Sumatera Barat)
  • Saat pendudukan Belanda, untuk menunjukkan bahwa negara Indonesia masih ada dan berkuasa, Penguasa Militer Indonesia, Jenderal Sudirman dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Penguasa Wilayah Yogyakarta, melancarkan penyerangan di wilayah Yogyakarta, yang dikenal dengan Serangan Oemoem 1 Maret 1949.
  • Tahun 1825-1830 terjadi Perang Jawa, dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, salah satu keluarga Keraton Yogyakarta, berjuang melawan Tentara Belanda, dengan menjadikan Goa Selarong (di Bantul) sebagai basis pertahanannya, dibantu oleh Panglima Alibasya Sentot Prawirodirdjo dan Kyai Maja.
  • Hingga saat ini JOGJA memberikan dukungan dan sumbangsihnya bagi bangsa dan negara Indonesia melalui seni, budaya, pendidikan dan ekonomi kreatif yang diakui oleh berbagai pihak di dalam dan luar negeri. Sehingga menjadikannya sebagai suatu Daerah Istimewa bagi Indonesia.